Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)

Provinsi Kalimantan Selatan

Jl. Dharma Praja I, Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru

Foto PENERAPAN POLA AGROSILVOFISHERY PADA LAHAN PERTANIAN RAWA

PENERAPAN POLA AGROSILVOFISHERY PADA LAHAN PERTANIAN RAWA

  Kam, 14 April 2016

THE APPLICATION OF AGROSILVOFISHERY MODEL ON WETLAND LAND FARMING

Latifa Suhada Nisa

Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan

Jalan Aneka Tambang-Trikora, Kompleks Perkantoran Pemerintah

Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru

e-mail: tivasn@gmail.com

Diterima: 18/09/2014, Direvisi: 10/10/2014, Disetujui: 27/10/2014

Abstrak

Berkurangnya lahan subur untuk pertanian merupakan salah satu masalah utama pembangunan pertanian dewasa ini, yang berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan pangan bagi masyarakat dan meningkatnya impor bahan pangan. Alternatif solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan pemanfaatan lahan rawa. Kalimantan Selatan memiliki potensi lahan rawa yang belum diusahakan yang cukup besar, diantaranya lahan rawa pasang surut di Kabupaten Barito Kuala seluas 30.534 ha dan lahan rawa lebak di Kabupaten Tanah Laut seluas 46.955 ha. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa dapat digunakan pola Agrosilvofishery. Agrosilvofishery diterapkan pada lahan rawa dengan terlebih dahulu melakukan identifikasi karakteristik lahan, kemudian menentukan komoditi pertanian dan perikanan yang sesuai dengan kondisi lahan setempat, sedangkan komoditi kehutanan dapat menggunakan tanaman lokal. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan tentang penerapan sistem agrosilvofishery pada lahan rawa dan kemungkinan penerapannya di daerah. Sistem ini selain diharapkan memberikan nilai tambah pada lahan rawa juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kata Kunci: Agrosilvofishery, rawa pasang surut, rawa lebak

Abstract

The decreasing amount of fertile land is become one of major problems for agriculture developement, which has an effect on unfulfilled food suplies for society and increase on food import. The alternative solution to overcome this problem is by the utillization of wetland. South Kalimantan has the highest potential on wetland that have not utillized yet, such as tidal marsh on Barito Kuala regency with 30.534 hectare and

46.955 halow land swamp on Tanah Laut regency. To optimize the utillization of the wetland, agrosilvofishery model can be used. Agrosilvofishery is applied to the wetland by identified the characteristic of the land first, and then define agriculture, fishery, and forestry comoditi that suitable with local area. The aim of this paper is to explaine the application of Agrosilvofishery modeland the possibility usage on local area. This modelare expected to give an added value to the wetland and increasing society income.

Keywords: Agrosilvofishery, tidal mars, lowland swamp

Statistik Pengunjung

Kantor Balitbang Kalsel

Alamat : Jl. Dharma Praja I,
Komplek Perkantoran Pemerintah
Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru
Telp/Fax : 0511-6749271
Email : kalselbalitbangda@gmail.com