Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)

Provinsi Kalimantan Selatan

Jl. Dharma Praja I, Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru

Foto KAJIAN TINGKAT PENGEMBANGAN PROGRAM DESA SIAGA DI KABUPATEN BANJAR

KAJIAN TINGKAT PENGEMBANGAN PROGRAM DESA SIAGA DI KABUPATEN BANJAR

  Sel, 26 April 2016

Studi Kasus di Kecamantan Karang Intan dan Mandi Kapau

(STUDY OF RURAL DEVELOPMENT PROGRAM ALERT IN BANJAR REGENCY

Case Study in Karang Intan and Mandi Kapau District)

Oleh/By: Sri Setyati*)

*)Peneliti Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan

Jl. Jenderal Sudirman No.14 Banjarmasin 70114 Tel./Fax. (0511) 3352982 e-mail: srisetyati@yahoo.com

Diterima 15 Mei 2013, disetujui 25 Mei 2013

ABSTRACT

In this paper explained about the level of  idle rural development programs that have been implemented in Banjar Regency in Martapura and Karang Intan case studies. The purpose of this paper is to provide an overview of the value of idle village level development program in terms of input indicators (inputs) and indicators processes, identify problems encountered in its implementation as well as provide proper troubleshooting solutions in order to improve the results of the implementation and development of the village in Banjar Regency alert. This study uses quantitative and qualitative methods approach. Quantitative methods approach is used to describe the level of alert in terms of rural development indicators and indicators of process inputs. The second indicator is determined based on the general guidelines on rural development mode. Input indicators, ie indicators to measure how much input has been given in order to alert village development. Input indicator consists of the presence / absence of the Village Community Forum, Poskesdes and means of building, furnishing / equipment, required UKBM public, health professionals (midwives minimum), health workers, means of communication, the village chief regulatory / regent and the presence / absence of financial support in addition to government. Process indicators, ie indicators to measure how active efforts carried out in a village in order to alert village development. Consists of process indicators, frequency of meetings of the Village Community Forum, function / absence Poskesdes, function / absence UKBM existing, functioning / absence and Countermeasures & E & E Systems and Disaster, function / absence of community based surveillance systems, the presence / absence of activities for home visits kadarzi and behavior, in the presence / absence of a coaching clinic, realized / absence of regulations village chief / district as well as regular / not support funding than government. In this study found that the level of village development programs implemented in the district standby Karang Intan and Martapura based on input and process standards are sufficient. While the constraints faced by the program is idle village on funding, infrastructure and site selection should poskesdes close and affordable to local communities.

Keywords: Alert village, Banjar regency, programs

ABSTRAK

Dalam tulisan ini memaparkan tentang tingkat pengembangan program desa siaga yang telah dilaksanakan di Kabupaten Banjar studi kasus di Kecamatan Martapura dan Karang Intan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran nilai tingkat pengembangan Program desa siaga ditinjau dari indikator input (masukan) dan indikator proses, mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaannya serta memberikan solusi pemecahan masalah yang tepat dalam upaya peningkatan hasil pelaksanaan pengembangan dan desa siaga di Kabupaten Banjar. Kajian ini menggunakan    pendekatan metode kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan Metode kuantitatif digunakan untuk menggambarkan tingkat pengembangan desa siaga ditinjau dari indikator masukan dan indikator proses. Kedua indikator ini ditetapkan berdasarkan buku pedoman umum pengembangan desa siaga. Indikator Masukan, yaitu indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah diberikan dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator masukan terdiri atas ada/tidaknya Forum Masyarakat Desa, Poskesdes dan sarana bangunan,     pelengkapan/ peralatannya, UKBM yang dibutuhkan masyarakat, tenaga kesehatan (minimal bidan), kader kesehatan, sarana komunikasi, peraturan kepala desa/bupati serta ada/tidaknya dukungan dana selain pemerintah.   Indikator Proses, yaitu indikator untuk mengukur seberapa aktif upaya yang dilaksanakan di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri atas, frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa, berfungsi/tidaknya Poskesdes, berfungsi/tidaknya UKBM yang ada, berfungsi/tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Kegawatdaruratan dan Bencana, berfungsi/tidaknya Sistem Surveilans berbasis masyarakat, ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS, ada /tidaknya pembinaan  dari puskesmas, terealisasi/tidaknya peraturan kepala desa/bupati serta rutin/tidaknya dukungan dana selain pemerintah. Dalam kajian ini diperoleh bahwa tingkat pengembangan program desa siaga yang dilaksanakan di kecamatan Karang Intan dan Martapura berdasarkan standar input dan proses adalah cukup.   Sedangkan kendala yang dihadapi terhadap pelaksanaan program desa siaga adalah pada pendanaan, sarana prasarana serta pemilihan lokasi poskesdes yang seharusnya dekat dan terjangkau oleh masyarakat setempat.

Kata kunci : Desa Siaga, Kabupaten Banjar, Program

 

Statistik Pengunjung

Kantor Balitbang Kalsel

Alamat : Jl. Dharma Praja I,
Komplek Perkantoran Pemerintah
Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru
Telp/Fax : 0511-6749271
Email : kalselbalitbangda@gmail.com